Jumat, 21 Desember 2012

ARTIKEL ILMIAH


Kenalilah Tipe Gaya Belajar Kita (Learning Style)
Oleh Nita Tri Nurhayati

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan bahwa ternyata kita memiliki cara belajar dan berfikir yang berbeda-beda. Kita akan merasa lebih efektif dan lebih baik dengan menggunakan lebih banyak mendengarkan, namun orang lain merasa lebih baik dengan membaca dan bahkan ada yang merasa bahwa hasilnya akan optimal jika kita belajar langsung mempraktekkan apa yang akan dipelajari. Bagaimana cara kita belajar akan sangat mempengaruhi struktur otak kita. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai Learning Style (Gaya Belajar).
  1. Modalitas

    Dalam menyikapi berbagai macam mengenai gaya belajar, tentulah harus ditambah dengan logika dan kebudayaan cara kerja kita, dan yang paling penting dari semua diatas adalah suatu cara kerja otak kita yang mana dalam hal ini kita sebut dengan modalitas belajar. Secara singkat modalitas belajar adalah, suatu cara bagaimana otak menyerap informasi yang masuk melalui panca indera secara optimal. Menurut Howard Gardner modalitas belajar tersebut dapat dikarakteristik menjadi gaya belajar Auditory, Visual, Reading dan Kinesthetic
    • Auditory
      Orang yang memiliki gaya belajar Auditory, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

      Beberapa ciri seorang Auditory antara lain :
      • Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok
      • Mengenal banyak sekali lagu / iklan TV,
      • Suka berbicara.
      • Pada umumnya bukanlah pembaca yang baik.
      • Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
      • Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
      • Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya.
    • Visual
      Orang yang memiliki gaya belajar Visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya mereka memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Beberapa karakteristik Visual adalah :
      • Senantiasa melihat memperhatikan gerak bibir seseorang yang berbicara kepadanya
      • Cenderung menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu
      • Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain.
      • Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan
      • Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan
      • Biasanya orang yang Visual dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu
    • Reading
      Orang yang memiliki gaya belajar Reading, belajar dengan menitikberatkan pada tulisan atau catatan. Karakteristik ini benar-benar menempatkan bacaan atau tulisan sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah membaca atau menuliskannya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini menyukai hal-hal yang berbau teoritis dan umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk peragaan atau praktis.
Orang yang memiliki gaya belajar Reading biasanya memiliki karakteristik :
      • Suka membaca dan membuat catatan
      • Huruf-huruf indah dan tulisan rapi merupakan hal yang sangat berkesan bagi mereka
      • Mudah mengingat apa yang mereka baca atau tuliskan
    • Kinesthetic
      Orang yang memiliki gaya belajar, Kinesthetic mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian informasi. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.
Mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.Beberapa karakteristiknya adalah
Orang yang memiliki gaya belajar Kinesthetic biasanya memiliki karakteristik :
      • Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya
      • Sulit untuk berdiam diri
      • Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan
      • Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik
      • Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar
      • Mempelajari hal-hal yang abstrak merupakan hal yang sangat sulit
  1. Spectrum

    Dari segi memandang sesuatu dan bagaimana ia melakukan pengaturan informasi, ada orang yang cenderung memandang sesuatu secara abstrak, dan ada pula yang konkret. Sedangkan dari aspek pengaturan informasi, manusia mengolahnya secara sekuensial (teratur/urut) dan acak (random).
Seorang Profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticut, Anthony Gregorc, menggabungkan kedua faktor di atas menjadi 4 karakter gaya berpikir seseorang. Tiap orang memiliki salah satu gaya berpikir yang dominan diantara keempat tipe yang ada. Keempat tipe gaya berfikir tersebut adalah : Concrete Sequential (CS), Abstract Random (AR), Abstract Sequential (AS), Concrete Random (CR).
    • Concret Sequensial [CS]
Orang dengan tipe ini adalah orang yang cenderung, teratur, dan rapi. Mereka selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terencana, dan tidak suka hal-hal yang bersifat mendadak. Selain itu mereka dengan ciri CS tidak senang mengerjakan tugas yang bertumpuk-tumpuk. Biasanya agak perfeksionis sehingga ingin segala sesuatu dikerjakan dengan sempurna dan terencana. Tipe ini cocok untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kerapian, seperti sekretaris dan bendahara.
Apa yang terbaik bagi mereka?
      • Memiliki cara yang mudah dalam menerapkan ide-ide
      • Mengorganisir
      • Ide cemerlang dapat membuat mereka lebih efisien
      • Menghasilkan hasil yang konkret dari ide-ide yang abstrak
      • Mampu bekerja tepat waktu dengan baik
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?
      • Bekerja secara sistematis, langkah demi langkah
      • Peduli pada detail
      • Memiliki sebuah jadwal untuk dijalani
      • Memiliki penafsiran secara logika
      • Mengetahui apa yang berguna bagi mereka
      • Rutinitas, memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu
Apa yang sulit bagi mereka?
      • Bekerja secara kelompok
      • Bekerja di dalam lingkungan yang tak teratur
      • Mengikuti secara tidak lengkap atau petuntuk yang tidak jelas
      • Bekerja dengan orang yang tidak memiliki pendirian
      • Berhadapan dengan ide-ide yang abstrak
      • Menuntut untuk "menggunakan imajinasinya"
      • Pertanyaan yang tidak benar atau jawaban yang salah
Apa pertanyaan yang mereka tanyakan ketika belajar?
      • Bukti-bukti apa yang saya butuhkan?
      • Bagaimana saya melakukannya?
      • Kapan itu didapatkan?
Kiat-kiat jitu bagi pemikir Concret Sequensial [CS]:
      • Bangunlah kekuatan organisasional Anda
      • Cari tahu detail yang Anda perlukan
      • Bagilah proyek Anda menjadi beberapa tahapan
      • Tatalah lingkungan kerja yang tenang

    • Abstract Sequensial [AS]
Biasanya merupakan pemikir yang cerdas dan punya ide-ide yang brilian. Orang ini senang mengetahui dan berpikir tentang apa yang tidak dipikirkan orang lain. Senang membaca membuatnya senang untuk berdiskusi, bahkan berdebat dengan orang lain. Saking senangnya berpikir, kadang mereka lupa bahwa orang di sekitarnya sama sekali tidak paham dengan ide-idenya yang terlalu "tinggi". Lebih menyukai belajar secara individu daripada berkelompok. Mereka sering disebut "konseptor ulung" dan jago menganalisis informasi.

Apa yang terbaik bagi mereka?
      • Mengumpulkan banyak informasi sebelum membuat sebuah keputusan
      • Menganalisis ide-ide
      • Melakukan penelitian
      • Menyediakan ide-ide logis yang berurutan
      • Menggunakan bukti-bukti untuk membuktikan atau menyangkal teori-teori
      • Memberikan bukti-bukti yang diperlukan untuk diselesaikan
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?
      • Menggunakan contoh yang tepat, sebagai hasil dari penelitian yang akurat
      • Belajar lebih dengan mengamati daripada melakukannya
      • Alasan yang dapat diterima secara logika
      • Bekerja dengan tenang untuk membahas suatu persoalan secara menyeluruh
Apa yang sulit bagi mereka?
      • Dituntut untuk bekerja dalam hal sudut pandang yang berbeda
      • Memiliki waktu yang terlalu sedikit dalam menyelesaikan suatu persoalan
      • Mengulangi tugas yang sama berulang-ulang kali
      • Banyak aturan-aturan yang spesifik dan peraturan-peraturan yang lainnya
      • pemikiran yang "sentimentil"
      • Mengekspresikan emosi mereka
      • Menjadi diplomatik ketika meyakinkan orang lain
      • Tidak menguasai suatu percakapan
Apa pertanyaan yang mereka tanyakan ketika belajar?
      • Bagaimana saya mengetahui kalau hal ini benar?
      • Apakah ada kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya?
      • Apa yang kita butuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan ini?
Kiat-kiat jitu bagi pemikir Abstract Sequensial [AS]:
      • Latihlah logika Anda
      • Suburkan kecerdasan Anda
      • Upayakan keteraturan
      • Analisislah orang-orang yang berhubungan dengan Anda


    • Abstract Random [AR]
Segala sesuatu seringkali dihubungkan dengan perasaan dan emosi, sehingga mereka terkenal sangat sensitif. Semua bisa menjadi menyenangkan jika mood-nya sesuai, tapi menjadi buruk jika mereka sudah tidak lagi memiliki emosi positif terhadap sesuatu. Mudah kehilangan konsentrasi, banyak pertimbangan, dan suka mencoret-coret tanpa arti di buku adalah ciri tipe ini. Mereka juga sangat menjaga hubungan dengan orang lain, tidak senang jika mengalami konflik, dan dikenal "perhatian" di antara orang-orang sekitarnya. Selain itu, mereka juga sangat mudah terpancing emosinya. Istilah kerennya "mudah tersentuh". Ekspresi yang spontan itu mungkin karena kesulitan mereka mengungkapkan sesuatu secara verbal kepada orang lain.
Apa yang terbaik bagi mereka
      • Mau mendengarkan orang lain
      • Paham akan perasaan dan emosi
      • Fokus pada tema dan ide-ide
      • Membawa kerukunan pada kelompoknya
      • Berhubungan baik dengan orang lain
      • Mengenali dan menghargai emosional orang lain
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Abstract Random [AR]?
      • Belajar sendirian
      • Petunjuk yang luas dan umum
      • Menjaga hubungan dengan baik
      • Semangat dalam berpartisipasi dalam pekerjaan yang mereka yakini
      • Memiliki moralitas yang tinggi
      • Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan perasaannya
Apa yang sulit bagi mereka?
      • Memberikan penjelasan
      • Berkompetisi
      • Bekerja dengan orang yang memiliki kepribadian otoritas/diktator
      • Bekerja dalam lingkungan yang membatasinya
      • Bekerja dengan orang-orang yang kurang ramah
      • Berkonsentrasi pada suatu hal secara serentak
      • Memberikan perincian-perincian yang tepat
      • Menerima kritikan positif
Apa pertanyaan yang mereka tanyakan ketika belajar?
      • Apa ini ada hubungannya dengan saya?
      • Bagaimana saya dapat membedakannya?


Kiat-kiat jitu bagi pemikir Abstract Random [AR]:
      • Gunakan kemampuan alamiah Anda untuk bekerjasama dengan orang lain
      • Bangunlah kekuatan belajar Anda dengan berasosiasi
      • Lihatlah gambaran besar
      • Waspadalah terhadap waktu
      • Gunakan isyarat isyarat visual

    • Concret Random [CR]
Sering dianggap sebagai orang yang kreatif karena senang mencoba menyelesaikan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Saking asyiknya, mereka cenderung tidak peduli dengan waktu. Terkenal sebagai "Deadliner", karena seringkali mengerjakan sesuatu di batas akhir, meski punya waktu banyak sebelumnya. Tipe ini bisa mengerjakan beberapa pekerjaan di satu waktu, hal yang sangat sulit dilakukan orang dengan tipe CR. Spontanitas dan impulsif menjadi ciri khas tipe ini, karena begitu banyak ide-ide muncul di kepala mereka. Orang tipe CR biasanya cukup dipercaya untuk menjadi pemimpin, meskipun menimbulkan situasi kritis karena sifat "deadliner-nya". Mereka juga senang mencoba-coba sesuatu, bereksperimen, walaupun mungkin banyak orang lain tidak menyenanginya.

Apa yang terbaik bagi mereka?
      • Meberikan inspirasi kepada orang lain untuk melakukan sesuatu
      • Memiliki banyak pilihan dan solusi
      • Memberikan ide-ide yang kreatif
      • Membayangkan akan masa depan mereka
      • Seringkali menggunakan cara yang berbeda dalam melakukan sesuatu
      • Menerima orang-orang yang memiliki banyak perbedaan
      • Berpikir dengan cepat dengan usahanya sendiri
      • Mampu menanggung resiko
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?
      • Mengguakan wawasan dan naluri untuk memecahkan permasalahan
      • Bekerja dengan memiliki banyak waktu
Apa yang sulit bagi mereka?
      • Adanya larangan dan batasan
      • Laporan-laporan yang formal
      • Rutinitas
      • Mengulangi pekerjaan yang telah selesai dikerjakan
      • Menyimpan dokumen-dokumen yang terperinci
      • Menunjukan bagaimana mereka mendapatkan suatu jawaban
      • Memilih hanya satu jawaban
      • Tidak adanya pilihan
Apa pertanyaan yang mereka tanyakan ketika belajar?
      • Berapa banyak hal ini betul-betul diperlukan?
Kiat-kiat jitu bagi pemikir Concret Random [CR]:
      • Gunakan kemampuan divergen Anda
      • Siapkan diri Anda untuk memecahkan masalah
      • Cermati waktu Anda
      • Terimalah kebutuhan Anda untuk berubah
      • Carilah dukungan bagi diri Anda
  1. Gaya Terima
Setiap orang adalah individu yang unik, masing-masing akan melihat dunia dengan "cara"nya sendiri. Meskipun kita melihat satu kejadian pada waktu yang bersamaan, tidak menjamin kita akan sama melaporkan apa yang kita lihat. Hal ini karena setiap orang memiliki cara berfikir dan memahami sesuatu yang berbeda-beda. Seorang peneliti bidang psikologi, Herman Witkin, melalui studi risetnya mengemukakan 2 macam karakteristik gaya belajar yang dimiliki seseorang, yaitu gaya belajar Global dan gaya belajar Analitik.
Memang pada kenyataannya tidak semudah dalam mengelompokan gaya belajar seseorang seperti macam-maca gaya belajar diatas, dan sebenarnya tidak ada orang yang 100% murni. Setiap orang pasti memiliki kombinasi dari gaya belajar tersebut. Namun, biasanya seseorang memiliki kecenderungan untuk lebih dominan pada satu kelompok.
    • Analitik
      Orang yang berpikir secara Analitik dalam memandang segala sesuatu cenderung lebih terperinci, spesifik, terorganisasi, dan teratur. Namun kurang bisa memahami masalah secara menyeluruh. Dalam mengerjakan tugas yang dibebankan, seorang Analitik akan mengerjakan tugasnya secara teratur, dari satu tahap ke tahap berikutnya. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengerjakan satu tugas dalam satu waktu, dan belum akan mengerjakan tugas lain sebelum tugas pertamanya selesai.

      Orang Analitik membutuhkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugasnya, karena mereka tidak ingin ada satu bagian yang terlewat. Orang yang memiliki cara berpikir secara Analitik seringkali memikirkan sesuatu berdasarkan logika. Selain itu mereka menilai fakta-fakta yang terjadi melebihi perasaannya. Mereka dapat menemukan fakta-fakta namun seringkali kurang mengetahui gagasan utamanya, sehingga kadang mereka tidak mengerti maksud dan tujuannya dalam mengerjakan sesuatu. Mereka sangat sulit belajar bila ada gangguan, karena biasanya pikirannya hanya terfokus pada satu masalah saja. Untuk mengatasi keadaan ini, sebaiknya orang yang memiliki cara berpikir secara Analitik belajar sendirian, baru bergabung dengan temannya untuk bersosialisasi setelah selesai belajar.
Seorang yang Analitik dominan dapat bekerja maksimal bila ada metode yang konsisten dan pasti dalam mengerjakan sesuatu, apalagi bila mereka bisa menciptakan sistem belajar sendiri. Untuk itu jadwal harian sangat membantu seorang yang Analitik merasakan adanya struktur dan hal-hal yang bisa diramalkan, sehingga mereka dapat menentukan dan memenuhi sasaran-sasaran yang jelas.
    • Global

      Orang yang berpikir secara Global cenderung melihat segala sesuatu secara menyeluruh, dengan gambaran yang besar, namun demikian mereka dapat melihat hubungan antar satu bagian dengan bagian yang lain. Orang yang Global juga dapat melihat hal-hal yang tersirat, serta menjelaskan permasalahan dengan kata-katanya sendiri. Mereka dapat melihat adanya banyak pilihan dalam mengerjakan tugas dan dapat mengerjakan beberapa tugas sekaligus.
Orang yang berpikir secara Global dapat bekerjasama dengan orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan fleksibel. Mereka senang bekerja keras untuk menyenangkan orang lain. Senang memberi dan menerima pujian, bahkan mereka cenderung memerlukan lebih banyak dorongan semangat dalam memulai mengerjakan sesuatu. Mereka dapat menerima kritikan secara pribadi. Mereka akan mengalami kesulitan bila harus menjelaskan sesuatu setahap demi setahap. Orang yang memiliki cara berpikir secara Global dominan biasanya kurang memiliki kerapian, walau sebenarnya mereka memiliki keinginan besar untuk merapikannya, namun seringkali keinginannya kurang terlaksana. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya mereka belajar untuk menyederhanakan sistemnya.
Pikiran orang yang Global dominan tidak pernah bisa terfokus pada satu masalah, pikirannya dapat pergi ke banyak arah sepanjang waktu. Apabila orang Global mengerjakan satu tugas, lalu ada tugas baru yang muncul, maka mereka akan mulai mengerjakan tugas kedua, meskipun tugas pertamanya belum selesai. Untuk mengatasi keadaan ini sebaiknya mereka bekerja sama dengan orang lain, dengan janji saling menolong dalam menyelesaikan tugas sebelum mengerjakan yang lain. Mereka akan mudah berkonsentrasi bila ada seseorang yang bekerja bersamanya. Penundaan merupakan godaan nyata bagi orang Global, mereka membutuhkan dorongan semangat untuk memulai tugas mereka.

ARTIKEL ILMIAH


 ARTIKEL: Misteri Bilangan Nol (RETNOWATI)
 
Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0. Waktu itu bilangan nol hanya sebagai lambang. Dalam zaman modern, angka nol digunakan tidak saja sebagai lambang, tetapi juga sebagai bilangan yang turut serta dalam operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan nol telah menyusup jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem berhitung tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekalipun bilangan nol itu membuat kekacauan logika. Mari kita lihat.
Nol, Seperti ahli sulap
Pelajaran tentang bilangan nol,sejak zaman dahulu sampai sekarang selalu menimbulkan kebingungan bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan masyarakat pengguna. Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu yang tidak ada dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa yang tidak bingung? Tiap kali bilangan nol muncul dalam pelajaran Matematika selalu ada ide yang aneh. Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada. Mungkinkah 5 x 0 menjadi tidak ada?. Ide ini membuat orang frustrasi. Apakah nol ahli sulap?
Nol, penyebab komputer macet
 Ada lagi dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga?  Aturan lain tentang nol yang juga misterius adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun  tidak bisa dibagi dengan nol. Komputer yang canggih bagaimana pun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan pembagi angka nol. Komputer memang diperintahkan berhenti berpikir jika bertemu dengan nol.
Bilangan nol: tunawisma
Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu.Jika seseorang berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?
Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat dari titik nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik nol sesuatu titik yang tidak ada? Aneh dan sulit dipercaya?
Jika di antara dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah ruas. Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas ini dipotong-potong kemudian titik lingkaran hitam dipindahkan ke tengah-tengah ruas, ternyata bilangan 0 tidak mempunyai ruas. Jadi, bilangan nol berada di awang-awang. Bilangan nol tidak mempunyai tempat tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa bilangan nol harus menempel pada bilangan lain, misalnya, pada angka 1 membentuk bilangan 10, 100, 109, 10.403 dan sebagainya. Jadi, seseorang tidak pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari angka 1.
Bergerak, tetapi diam
Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi juga ada bilangan desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan seterusnya sekuat-kuat kita bisa menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena sangat kecil tidak bisa lagi disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya dianggap nol saja. Tetapi, ide ini ternyata sempat membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga kecilnya dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan terkecil? Padahal, nol mewakili sesuatu yang tidak ada? Waw. Begitulah.
Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu ada bilangan yang lebih dekat... yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, ..., 0,000001. demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda tidak pernah bisa melompat ke bilangan 2?

ARTIKEL ILMIAH


Menyiapkan Anak-anak Berkarakter
Oleh :   N. Zumrotul Aida, S Pd

Guru adalah sebuah profesi yang memiliki amanah yang sangat besar. Salah satunya adalah guru menjadi seorang pendidik. Mendidik para muridnya sehingga menjadi anak yang berakhlak mulia yang memiliki karakter-karakter luhur.
Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu. Di situ dibutuhkan keteladanan dari seorang guru. Walaupun kita sering menuliskan di RPP kita tentang karakter-karakter yang harus diajarkan, mustahil akan tecetak anak didik yang berkarakter ketika kita sebagai seorang guru tidak memberikan keteladanan yang baik kepada anak didik kita.
Contoh kecil saja ketika kita mengajarkan kepada anak didik kita untuk membuang sampah pada tempatnya, di satu sisi kita membuang bungkus permen sembarangan, toh itu sampah yang sangat kecil. Walaupun sampah yang kecil, hal tersebut bukanlah perbuatan yang baik, sehingga ketika anak didik kita melihat maka mereka akan menirunya, Anak akan melakukan sesuatu yang sering mereka lihat.
Contoh lain ketika kita menginginkan anak didik kita untuk berbuat jujur di saat ulangan harian maupun ulangan-ulangan  semester, di sisi lain ketika UAN, guru memerintahkan anak didiknya untuk bekerja sama dengan sesama temannya bahkan ada yang merelakan melakukan kecurangan-kecurangan lain sehingga diperoleh niai yang baik dan  bisa lulus 100 %. Astaghfirulloh.., apakah ini tujuan kita?? Apakah  ini yang dinamakan sebuah KEBERHASILAN??
Marilah kita meneladani guru kita tercinta yakni Rosululloh Saw. Beliau tidak pernah memerintahkan sesuatu sebelum beliau melakukannya sendiri. Beliau selalu menyayangi para sahabat dan anak-anak, beliau seorang yang berbudi luhur, lemah lembut dan tidak pemarah. Marilah kita merenung, apakah kita sudah berbuat yang demikian kepada anak didik kita?
Kita seringnya hanya omdo (omong doang) saja dan melakukan pembelajaran tanpa adanya kasih sayang dan ketulusan dari kita, sehingga anak-anak seringnya tidak patuh dan taat kepada kita.
Wahai para guru, sudah saatnya kita berbenah untuk menjadi pribadi yang baik sehingga kita pantas menjadi seorang yang digugu lan ditiru oleh anak-anak didik kita. Harapannya anak didik kita menjadi insan yang berkarakter dan berbudi luhur yang akan menjadi tunas-tunas bangsa dan  tangan - tangan lembut mereka (anak-anak didik yang sholeh)-lah yang akan menarik kita ke surga-Nya.

                                                                                                Baturetno, 13 Desember 2012